Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلاَ
تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا
حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى
اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang
disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk
mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang
mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung.” (QS. An-Nahl
[16]: 116)
وَ يُرِيدُ
اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah
menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS.
Al-Baqarah [2]: 185)
Dari Sa`d Ibn Abī Waqqāsh dengan sanad yang valid, Nabi—shallaLlāhu
`alaihi wa sallam—bersabda,
إِنَّ
أَعْظَمَ الْمُسْلِمِيْن جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ
فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْألتِهِ
“Sesungguhnya yang paling besar dosa dan kejahatannya
dari kaum muslimin adalah orang yang bertanya tentang hal yang tidak
diharamkan, lantas hal tersebut menjadi diharamkan karena pertanyaannya tadi.”
(Riwayat al-Bukhāri: VI/2658/6859.)
Dan dalam riwayat lain disebutkan,
إِنَّ أَعْظَمَ
الْمُسْلِمِيْن فِي الْمُسْلِمِيْن جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ أَمْرٍ لَمْ
يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ عَلَى النَّاسِ مِنْ أَجْلِ مَسْألتِهِ
“Sesungguhnya kaum muslimin yang paling besar dosa dan
kejahatannya terhadap (sesama) kaum muslimin adalah yang bertanya tentang
perkara yang tidak diharamkan, lantas hal tersebut menjadi diharamkan kepada
manusia karena pertanyaannya tadi.” (Riwayat Muslim: IV/1831/2358; Ahmad:
I/179/1545; Abū Dāwūd: II/612/4610; dan lain-lain.)
قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ :
حَدَّثَنِي
نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ ، عَنْ بَقِيَّةَ بْنِ الْوَلِيدِ ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ ،
عَنِ الْمَشْيَخَةِ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " نَهَى
عَنْ بَيْعِ الْمَاءِ إِلا مَا حُمِلَ مِنْهُ - أنظر فى الأموال لابن
سلام: ص 302 ، والموسوعة الفقهية - ج 1 – ص 79 - / ج 9 –
ص 159، والفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ
للزُّحَيْلِيّ (6/446) ،و إعلاء السنن - ج 14 ص 166 ، والمغني لابن قدامة - كتاب
البيوع- مسألة: الجزء الرابع ص 72،
" Rosululoh melarang menjual air
kecuali yang telah diangkut "Pengecualian pada hadits tersebut menunjukkan
bahwa air yang dilarang dijual adalah selain air yang sudah diangkut dan
disimpan.
Sebagaimana
Qaidah:”
الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ
حَتَّى يَدُلُّ الدَّلِيلُ عَلَى التَّحْرِيْـمِ
“Hukum asal segala sesuatu adalah Mubah
(Boleh/Halal) sampai ada dalil yang mengharamkannya.”atau asal dari
segala sesuatu adalah mubah, selama tidak ada dalil yang melarangnya.
Kang H.M.A. Sufyan Al-Jawiy berkata:”kata Illa pada
Hadits tersebut diatas telah menghancurkan kalimat sebelumnya, dan menghalalkan
menjual Air yang telah diangkut (dengan memakai Alat seperti Timba, Sanyo atau
Sible) dan Menurut pendapat yang ashoh diperbolehkan menjual air yang diperoleh
dari sumber mata bagi orang yang yang yang mengambilnya, karena air yang
sudah disimpan adalah milik orang tersebut, dan air termasuk barang yang bisa
dimanfaatkan (sehingga bisa dijual ), meskipun mudah untuk mendapatkannya,
apalagi jika air tersebut memiliki kelebihan tertentu seperti dinginnya air
yang dijual tersebut hukumnya sah secara mutlak, dan disyaratkan dijual dengan
menggunakan ukuran dan timbangan yang jelas.
وقال الإمام
أبو بكر رحمه الله تعالى : وَﻳَﺼِﺢُّ ﺑَﻴْﻊُ ﻛُﻞِّ ﻃَﺎﻫِﺮٍ ﻣُﻨْﺘَﻔَﻊٍ ﺑِﻪِ
ﻣَﻤْﻠُﻮْﻙٍ - أنظر فى كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار
للإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسيني الحسنى ص 329 ، وتحفة اللبيب في شرح التقريب ج 2
Imam Abu Bakar ra. (Seorang U`lama Madzhab
Syafi`iyyah ) berkata:”Sah hukumnya jual beli
setiap sesuatu yang suci, yang dapat dimanfaatkan dan yang dimiliki.
وَعَنْ عَلِـيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : جُعْتُ مَرَّةً جُوْعًا شَدِيْدًا ، فَخَرَجْتُ
لِطَلَبِ اْلعَمَلِ فِي عَوَالِي الْمَدِيْنَةِ ، فَإِذَا أَنَا بِامْرَأَةٍ قَدْ
جَمَعَتْ مَدَرًا ، فَظَنَنْتُهَا تُرِيْدُ بَلَّهُ ، فَقَاطَعْتُهَا كُلَّ
ذَنُوْبٍ عَلَى تَمْرَةٍ ، فَمَدَدْتُ سِتَّةَ عَشَرَ ذَنُوْبًا ، حَتَّى مَجَلَتْ
يَدَايَ ، ثُمَّ أَتَيْتُهَا فَعَدَّتْ لِي سِتَّ عَشْرَ ةَ تَمْرَةً ،
فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ ، فَأَكَلَ
مَعِي مِنْهَا
.
رواه
أحمد – أنظر
فى المنهج السوى شرح اصول طقة السادة آل باعلوى للحبيب زين بن ابراهيم بن سميط - ص
565، و ميزان الإعتدال في نقد الرجال - ج 1 : ص 43 ، و نيل الأوطار الجزء الخامس ص 351 ، و الكامل في ضعفاء الرجال
- ج 1 - ص 50، ومجمع الزاوئد ومنبع
الفوائد 6455
Ali ra. Berkata :”Suatu ketika
aku pernah merasakan rasa lapar yang hebat, lalu aku keluar untuk mencari
pekerjaan di pedesaan di madinah. Lalu aku mendapati seorang wanita yang sedang
mengumpulkan tanah liat. Aku menyangka bahwa dia menginginkan air. Maka aku
segera mendapatkannya, dan dari setiap satu timba air yang kuberikan dibayar
dengan satu kurma. Aku memberikan kepadanya enam belas timba air hingga
tanganku terluka. Kemudian aku mendatanginya, dan ia mengupahiku dengan enam
belas kurma. Setelah itu aku mendatangi Nabi Saw. Dan kuceritakan kejadian itu kepadanya
lalu beliau memakan kurma itu bersamaku.
Natijah:"Menjual
Air yang telah diangkut (memakai alat) hukumnya Mubah (Boleh)"
Wallahu A`lam (Hanya Allahlah
yang Maha Tahu Segalanya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar