Sabtu, 31 Desember 2016

Hukum Memperjual Belikan Air Hukumnya Mubah (Boleh).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung.” (QS. An-Nahl [16]: 116)
وَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
 “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

 Dari Sa`d Ibn Abī Waqqāsh dengan sanad yang valid, Nabi—shallaLlāhu `alaihi wa sallam—bersabda,

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِيْن جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْألتِهِ
“Sesungguhnya yang paling besar dosa dan kejahatannya dari kaum muslimin adalah orang yang bertanya tentang hal yang tidak diharamkan, lantas hal tersebut menjadi diharamkan karena pertanyaannya tadi.” (Riwayat al-Bukhāri: VI/2658/6859.)

Dan dalam riwayat lain disebutkan,

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِيْن فِي الْمُسْلِمِيْن جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ أَمْرٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ عَلَى النَّاسِ مِنْ أَجْلِ مَسْألتِهِ
“Sesungguhnya kaum muslimin yang paling besar dosa dan kejahatannya terhadap (sesama) kaum muslimin adalah yang bertanya tentang perkara yang tidak diharamkan, lantas hal tersebut menjadi diharamkan kepada manusia karena pertanyaannya tadi.” (Riwayat Muslim: IV/1831/2358; Ahmad: I/179/1545; Abū Dāwūd: II/612/4610; dan lain-lain.)
 قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ : حَدَّثَنِي نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ ، عَنْ بَقِيَّةَ بْنِ الْوَلِيدِ ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ ، عَنِ الْمَشْيَخَةِ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " نَهَى عَنْ بَيْعِ الْمَاءِ إِلا مَا حُمِلَ مِنْهُ - أنظر فى الأموال لابن سلام: ص 302 ، والموسوعة الفقهية - ج 1 ص 79 - / ج 9 ص 159،  والفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ للزُّحَيْلِيّ (6/446) ،و إعلاء السنن - ج 14 ص 166 ، والمغني لابن قدامة - كتاب البيوع- مسألة: الجزء الرابع ص 72،
" Rosululoh melarang menjual air kecuali yang telah diangkut "Pengecualian pada hadits tersebut menunjukkan bahwa air yang dilarang dijual adalah selain air yang sudah diangkut dan disimpan.
Sebagaimana Qaidah:”
 الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلُّ الدَّلِيلُ عَلَى التَّحْرِيْـمِ
“Hukum asal segala sesuatu adalah Mubah (Boleh/Halal)  sampai ada dalil yang mengharamkannya.”atau asal dari segala sesuatu adalah mubah, selama tidak ada dalil yang melarangnya.

Kang H.M.A. Sufyan Al-Jawiy berkata:”kata Illa pada Hadits tersebut diatas telah menghancurkan kalimat sebelumnya, dan menghalalkan menjual Air yang telah diangkut (dengan memakai Alat seperti Timba, Sanyo atau Sible) dan Menurut pendapat yang ashoh diperbolehkan menjual air yang diperoleh dari sumber mata  bagi orang yang yang yang mengambilnya, karena air yang sudah disimpan adalah milik orang tersebut, dan air termasuk barang yang bisa dimanfaatkan (sehingga bisa dijual ), meskipun mudah untuk mendapatkannya, apalagi jika air tersebut memiliki kelebihan tertentu seperti dinginnya air yang dijual tersebut hukumnya sah secara mutlak, dan disyaratkan dijual dengan menggunakan ukuran dan timbangan yang jelas.

وقال الإمام أبو بكر رحمه الله تعالى : وَﻳَﺼِﺢُّ ﺑَﻴْﻊُ ﻛُﻞِّ ﻃَﺎﻫِﺮٍ ﻣُﻨْﺘَﻔَﻊٍ ﺑِﻪِ ﻣَﻤْﻠُﻮٍْ  - أنظر فى كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار للإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسيني الحسنى ص 329  ، وتحفة اللبيب في شرح التقريب ج 2

Imam Abu Bakar ra. (Seorang U`lama Madzhab Syafi`iyyah ) berkata:”Sah hukumnya jual beli setiap sesuatu yang suci, yang dapat dimanfaatkan dan yang dimiliki.

وَعَنْ عَلِـيٍّ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :  جُعْتُ مَرَّةً جُوْعًا شَدِيْدًا ، فَخَرَجْتُ لِطَلَبِ اْلعَمَلِ فِي عَوَالِي الْمَدِيْنَةِ ، فَإِذَا أَنَا بِامْرَأَةٍ قَدْ جَمَعَتْ مَدَرًا ، فَظَنَنْتُهَا تُرِيْدُ بَلَّهُ ، فَقَاطَعْتُهَا كُلَّ ذَنُوْبٍ عَلَى تَمْرَةٍ ، فَمَدَدْتُ سِتَّةَ عَشَرَ ذَنُوْبًا ، حَتَّى مَجَلَتْ يَدَايَ ، ثُمَّ أَتَيْتُهَا فَعَدَّتْ لِي سِتَّ عَشْرَ ةَ تَمْرَةً ، فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ ، فَأَكَلَ مَعِي مِنْهَا . رواه أحمد أنظر فى المنهج السوى شرح اصول طقة السادة آل باعلوى للحبيب زين بن ابراهيم بن سميط - ص 565، و ميزان الإعتدال في نقد الرجال - ج 1 : ص 43  ، و نيل الأوطار  الجزء الخامس ص 351 ، و الكامل في ضعفاء الرجال - ج 1 -  ص 50، ومجمع الزاوئد ومنبع الفوائد 6455
 Ali ra. Berkata :”Suatu ketika aku pernah merasakan rasa lapar yang hebat, lalu aku keluar untuk mencari pekerjaan di pedesaan di madinah. Lalu aku mendapati seorang wanita yang sedang mengumpulkan tanah liat. Aku menyangka bahwa dia menginginkan air. Maka aku segera mendapatkannya, dan dari setiap satu timba air yang kuberikan dibayar dengan satu kurma. Aku memberikan kepadanya enam belas timba air hingga tanganku terluka. Kemudian aku mendatanginya, dan ia mengupahiku dengan enam belas kurma. Setelah itu aku mendatangi Nabi Saw. Dan kuceritakan kejadian itu kepadanya lalu beliau memakan kurma itu bersamaku.

Natijah:"Menjual Air yang telah diangkut (memakai alat) hukumnya Mubah (Boleh)"


Wallahu A`lam (Hanya Allahlah yang Maha Tahu Segalanya).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar